Big Data Dukung Pertumbuhan Ekonomi Digital

Sekitar 55 persen penduduk Indonesia yang aktif menggunakan internet telah menopang ekonomi digital dalam negeri sekaligus menjadi potensi besar untuk menumbuhkan industri di bidang teknologi.

Berkembangnya aktifitas digital beserta roda ekonomi di dalamnya, dan berarti akan banyak kebutuhan masyarakat yang bisa diperoleh melalui aplikasi teknologi, maka data yang terkumpul akan semakin besar. Sebagaimana dijelaskan oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Semuel Abrijani Pangerapan. Menurutnya, pada era digital siapapun bisa masuk dan menjadi pengusaha teknologi. Tidak harus mereka yang memiliki modal besar atau jaringan kuat. Hanya saja industri digital di Indonesia masih didominasi oleh pemodal besar. Padahal kesempatan terbuka untuk siapa saja, mengingat data memang terbuka dan bisa dimasuki oleh siapa pun. Data menunjukkan sampai saat ini terdapat sekitar 26 juta pengusaha berbasis digital di Indonesia dan 1.705 start-up.

Dilansir dari halaman sindonews, Samuel menambahkan, “Pertumbuhan ekonomi digital akan membutuhkan dukungan big data. Semakin besar data bisa dikumpulkan, maka ini akan menjadi dukungan yang penting bagi tumbuhnya ekonomi digital.”

Sementara menurut Dekan Fakultas Ilmu Adminsitrasi (FIA) STIAMI, Dr. Bambang Irawan, MM fenomena big data ini telah merontokkan retail-retail besar di hampir semua negara. Demikian juga dalam hal pekerjaan, dimana sekitar 12,5% jenis pekerjaan yang hilang dan digantikan oleh mesin maupun robot.

 

Revolusi Digital Diprediksi Hapus Jutaan Peluang Kerja

Presiden International Social Security Association, Joachim Breuer berpendapat dunia sedang memasuki revolusi digital yang disebut sebagai revolusi industri 4.0*, kondisi dimana hampir semua aktivitas dilakukan secara digital.

Kondisi ini membuat banyak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), karena sejumlah sektor sudah bersiap mengurangi pekerjanya, seperti pengelola toll yang mengurangi pekerja layanan pembayaran toll dengan layanan kartu elektronik, atau seperti sektor perbankan yang mengurangi pegawai karena akan meningkatkan layanan secara online.

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang PS Brodjonegoro, Indonesia akan kehilangan 50 juta peluang kerja akibat penyimpangan (disruptive) ekonomi dari revolusi digital atau revolusi industri keempat (4.0) sehingga semua pihak harus siap menghadapinya termasuk badan pengelola jaminan sosial nasional (republika).

Namun menurut Breuer, walaupun akan banyak terjadi PHK, tetapi di sisi lain akan banyak pula peluangan kerja yang tercipta. “Hanya saja hingga kini kita tidak tahu secara pasti berapa banyak yang kehilangaan pekerjaan dan berapa banyak peluang kerja baru yang tercipta,” ujarnya.

*istilah untuk tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, Internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif.