Perluas Jangkauan, Modalku Siap Beri Pinjaman Hingga 500 Miliar

PT Mitrausaha Indonesia Grup, perusahaan yang menanungi Modalku, penyedia layanan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi (P2P lending) memproyeksikan penyaluran pinjaman di tahun 2018 naik 3-4 kali lipat. Tahun lalu sepanjang Januari-September 2017 Modalku telah menyalurkan pinjaman sekitar Rp 300 miliar, atau naik tujuh kali lipat dari tahun 2016.

Modalku berencana memperluas jangkauan dengan menambah kantor cabang ke Indonesia bagian Timur, karena sejauh ini Modalku baru tersedia di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Untuk menggenjot penyaluran pinjaman ini Modalku juga akan menggandeng Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Selama ini modalku bekerjasama dengan PT Bank Sinarmas Tbk sebagai bank kustodian dalam pengelolaan dana pinjaman. Ini menjadikan Modalku sebagai perusahaan P2P lending pertama di Indonesia yang pendanaannya dijaga bank kustodian sehingga keamanan dan transparansi dananya terjamin. Modalku juga mengeklaim sebagai perusahaan P2P lending yang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang diaudit salah satu firma dari kelompok audit ternama Big Four, yaitu Ernst and Young.

Selain di Indonesia, Modalku juga beroperasi di Singapura dan Malaysia dengan nama Funding Societies dan menjadi satu-satunya perusahaan P2P lending dari Asia Tenggara yang masuk dalam daftar perusahaan-perusahaan terbaik di dunia yang melakukan terobosan inovasi di bidang teknologi finansial.

Modalku sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dimana sejauh ini sudah ada 22 P2P lending yang terdaftar di OJK dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada kuartal III/2017 mencapai Rp 1,44 triliun, melonjak sebesar 496,51%. Dan Modalku berpeluang meraih pangsa pasar mayoritas lantaran target penyaluran pinjaman Modalku di tahun ini sebesar Rp 500 miliar, atau berpotensi menggenggam pangsa pasar 50%.

Namun di sisi lain, banyak yang menganggap kehadiran jasa teknologi finansial (fintech) seperti Modalku ini mengganggu bisnis perbankan. Dan hal ini dibantah oleh Reynold Wijaya, CEO dan Co-Founder Modalku. Menurutnya fintech seperti Modalku justru memilih untuk berkolaborasi dengan bank daripada harus bersaing karena fintech dan bank memiliki banyak perbedaan. Ia menerangkan bahwa nasabah fintech selama ini mayoritas adalah unbankable atau yang tertolak bank. “(Sebanyak) 80% orang Indonesia unbankable. Bank tidak mungkin bisa mengambil semua karena system risk-nya terlalu tinggi.”

Ia kemudian menegaskan, “kalau nasabah ini sudah bankable, silakan diambil. Kami sudah tidak bersaing dengan bank bila semakin banyak orang yang memiliki akses, bank akan semakin diuntungkan.’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *