Berkenalan dengan Aquarius Musikindo, Label Rekaman yang Mendistribusikan Album Pas Band Secara Nasional

Pada 1994, Pas Band mencoba mencari label rekaman di Jakarta dengan tujuan agar mereka bisa merilis album secara profesional, namun tak ada satupun label rekaman yang tertarik. Kondisi mulai berubah ketika EP mereka “Four Through The Sap”(1993) dibeli dan diproduksi kembali oleh Aquarius Musikindo untuk didistribusikan secara nasional.

Setelah itu band asal Kota Kembang ini mulai mendapatkan situasi mujur di Jakarta, Aquarius tertarik untuk mengontrak mereka. Pada 1995 Pas mulai memasuki sesi rekaman album kedua “In (No) Sensation” selama 6 bulan di Jakarta. Setelah dirilis album ini terjual sebanyak 100.000 copy dalam rentang satu minggu, di masa inilah untuk pertama kalinya Pas menggarap video klip “Impresi” sebagai single dan video promosi mereka. Selanjutnya yang tercatat adalah omset penjualan album meningkat hingga 400.000 copy dengan honor konser di atas Rp.10.000.000. “In (No) Sensation” juga terpilih menjadi salah satu dari 150 album Indonesia Terbaik versi majalah rolling stone Indonesia.

Histori di atas mungkin sedikit menjelaskan bagaimana Pas band bisa menjadi bagian dari salah satu produsen musik / label rekaman terbesar di Jakarta bernama Aquarius Musikindo, yang pada akhirnya merilis dan mendistribusikan semua album Pas Band secara nasional. Aquarius setidaknya telah menjadi salah satu kontributor terbesar untuk banyak pencapaian Pas,  terutama dalam peran sebagai pengelola dan penjual rekaman, termasuk untuk urusan promosi dan perlindungan hak cipta.

Kemungkinan terbesar yang menjadi alasan Aquarius tertarik terhadap Pas saat itu adalah karena di tahun-tahun sebelumnya pangsa pasar untuk musik alternative rock (yang menjadi salah satu komponen musik Pas) di dunia sedang memasuki masa keemasan. Rilisan alternative rock di masa itu merajai chart dan menjadi best seller di setiap negara. Gelombang dari ledakan alternative semakin besar terasa terutama pada tahun 1991, lewat beberapa rilisan album dengan elemen alternative yang keluar pada tahun yang sama, seperti “Nevermind” (Nirvana), “Ten” (Pearl Jam), “Badmotorfinger” (Soundgarden), “Man In the Box” (Alice in Chains),  “Blood Sugar Sex Magik” (Red Hot Chili Pepper ) dan “Live at the Brixton Academy” (Faith No More).

Dalam perspektif pasar, kondisi ini dirasa akan berpengaruh di dalam negeri. Hal ini terbukti dari pilihan sebagian penikmat musik tanah air yang perlahan bergeser dan mulai melirik musik rock atau pop yang bernafaskan alternative. Tentunya hal ini terjadi lewat peran media yang sangat besar saat itu, mengingat mereka lah yang memborbardir mata telinga pasar dengan materi serupa. Maka adalah keputusan yang tepat jika saat itu Pas dipilih, di samping alasan dari respon positif pasar yang Pas dapatkan sebelumnya lewat EP “Four Through The Sap” yang mereka edarkan sendiri.

Gelombang alternative ini bisa kita lihat dan rasakan juga di dalam negeri lewat rilisan tipikal yang keluar pada tahun yang sama dengan “In (No) Sensation” seperti teman satu label Pas yaitu Nugie dengan “Bumi” atau Netral lewat album “Wa..lah” (Bulletin Musik). Lalu tahun tahun selanjutnya label lain di Indonesia mulai diwarnai oleh nama-nama dengan konten bernafaskan alternative seperti perusahaan rekaman baru saat itu, Target Pro & Musitama Multimedia yang merilis Kubik : self-titled (1997), Plastik : self-titled  (1997 / Bulletin), Cherry Bombshell : Waktu Hijau Dulu (1997 / Bulletin Records), Pure Saturday : self-titled (1996 / Ceepee Production) dan Pure Saturday : Utopia (1999 / Aquarius Musikindo).

Aquarius sendiri merupakan perusahaan rekaman terbesar kedua di Indonesia setelah Musica Studio. Selain Pas, nama-nama populer seperti Funky Kopral, Prisa, Potret, KLa Project, Dewa 19 dan banyak lagi tertera pada daftar artis Aquarius Musiqindo.

Dirintis oleh Johannes Soerjoko / Ook, nama Aquarius terisnpirasi dari lagu tahun 60an, yang diangkat dari karya musikal “Hair” berjudul “Aquarius/Let The Sunshine In” yang liriknya ditulis oleh James Rado & Gerome Ragni serta musik oleh  Galt McDermot.

Aquarius resmi didirikan pada tahun 1969 dengan nama Aquarius Music. Di era 70an Aquarius bekerjasama dengan jaringan Radio Prambors untuk membentuk label rekaman Pramaqua yang merilis album perdana God Bless dan Warkop DKI. Nama Aquarius Musikindo sendiri resmi dipakai pada tahun 1988.

Selain memproduksi musik dalam negeri, Aquarius menjadi produsen dan distributor resmi untuk beberapa produksi album WEA, EMI, JVC dan PONYCANYON serta distributor resmi untuk produksi album internasional SONY sampai tahun 2001. Kerjasama WEA dengan EMI berakhir pada tahun 1995 dan 1997. Saat ini, Aquarius Musikindo menjadi distributor Warner Music Indonesia dan beberapa perusahaan rekaman di Indonesia yang tergabung dalam Aquarius Group, yaitu: Forte Records dan POPS Music.

Di era rilisan fisik musik masih banyak diminati, Aquarius membangun toko di titik-titik strategis di beberapa kota, seperti Jl. Mahakam (Jakarta), Pondok Indah (Jakarta), Dago (Bandung) dan Sutomo (Surabaya). Sejak 1995, mereka merupakan salah satu perwakilan musik yang terbesar di Indonesia. Namun pembajakan yang marak membuat penjualan album fisik menurun. Satu per satu, toko rekaman milik Aquarius ditutup seperti Aquarius Dago, Bandung pada Desember 2009, diikuti penutupan toko kaset Aquarius Pondok Indah, yang merupakan toko rekaman terbesar di Indonesia saat itu, pada tanggal 25 Agustus 2010.

Di masa sekarang, sedikit orang yang mendengarkan musik dari CD player atau perangkat fisik lainya, karena pada umumnya mereka mendengarkan musik dari handphone dan komputer dengan format MP3 dengan pilihan musik yang hampir tak terbatas dari internet. Selain itu bagi sebuah band, internet dirasa lebih efektif untuk dijadikan media promosi yang lebih murah. Keadaan ini membuat peran label rekaman sudah tidak lagi sama seperti di saat Pas memulai album pertamanya. Banyak pekerjaan label rekaman yang sudah bisa dikerjakan secara mandiri (kecuali untuk jaringan, dana produksi dan promosi yang besar) apalagi jika melihat band-band besar sekelas Radiohead & Nine Inch Nails yang memutuskan untuk keluar dari label lalu merilis albumnya sendiri. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari para pasers, apakah album terbaru Pas akan kembali dirilis oleh Aquarius, atau mereka memutuskan untuk kontrak dengan label lain, atau mungkin, kembali ke awal mereka berdiri, yaitu dengan memasarkan album sendiri?!

Segala kemungkinan bisa terjadi, jadi kita tunggu saja seperti apa nantinya…

We want pas!! we want new album!

*dokumentasi foto tahun 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *