Masuk Asian Games 2018, E-sports Diharapkan Berkembang di Indonesia

Industri olahraga elektronik atau e-sports sedang sangat diminati di dunia, dan Asia saat ini dikenal sebagai pabrik dari tim-tim ‘garang’ turnamen e-sports taraf internasional.

Di Indonesia sendiri perkembangan games elektronik ini sangatlah pesat, dilansir dari halaman kompas.com, Marketing Director Intel ANZ & East Asia, Anna Torres menyatakan bahwa popularitas e-sports di Indonesia memiliki peluang untuk sejajar dengan beberapa negara tetangga, seperti Thailand dan Filipina. Negara-negara tersebut selangkah lebih maju untuk e-sports, khususnya dalam pengelolaan dan infrastruktur.

Pada tahun ini untuk pertama kalinya e-sports menjadi salah satu cabang olahraga di Asian Games yang akan berlangsung pada Agustus 2018 mendatang. Hal ini diharapkan mampu menjadi pemicu bagi perkembangan industri e-sports di Indonesia.

Industri gaming di Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-16 pada tahun 2017, menurut data dari Newzoo. Sumber daya manusianya pun tak bisa dikatakan sedikit, tercatat anggota gamer di Indonesia mencapai 43,7 juta dengan pendapatan dari game sebesar 879,7 juta USD.

Di dalam negeri, e-sports yang berangkat dari gaming ini masih dipandang sebelah mata sebagai sebuah profesi. Padahal e-sports sudah sampai Olimpiade, dengan kata lain pencapaiannya sudah bisa dibilang tinggi.

IBM Hadirkan Teknologi AI Pengatur Lampu Lalu Lintas

Awal bulan ini, IBM mendapat hak paten untuk teknologi manajemen lalu lintas berbasis AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan. Jika program ini dapat diimplementasikan, maka akan dapat mengurangi kemacetan di persimpangan jalan.

Program ini akan bekerja dengan cara mengamati arus pengguna jalan di setiap persimpangan, lewat kamera yang terpasang di setiap lampu lalu lintas secara real time. Selanjutnya program akan melakukan kalkulasi pola trafik yang paling optimal dan mengatur nyala lampu lalu lintas. Komputer akan menentukan apakah nyala lampu lalu lintas perlu diubah, berdasarkan hasil identifikasi arus trafik. Jadi, jika kondisi pengaturan timer tidak ideal pada keadaan trafik tertentu, nyala lampu akan ditentukan oleh program.

Dilansir dari kompas.com, Master Investor IBM, Steve Hobson mengatakan kondisi jalanan di tiap persimpangan berbeda-beda. Misalnya, bisa jadi ada banyak penyeberang jalan, antrean kendaraan di salah satu lajur, atau mungkin lampu menyala merah terlalu lama. Menurut Hobson, hanya seorang manusia alias polisi lalu lintas yang bisa mengamati semua situasi ini dan membuat pertimbangan yang sesuai. Dan cara kerja AI IBM ini sengaja dibuat untuk meniru kemampuan seperti yang dimiliki oleh polisi.

Big Data Dukung Pertumbuhan Ekonomi Digital

Sekitar 55 persen penduduk Indonesia yang aktif menggunakan internet telah menopang ekonomi digital dalam negeri sekaligus menjadi potensi besar untuk menumbuhkan industri di bidang teknologi.

Berkembangnya aktifitas digital beserta roda ekonomi di dalamnya, dan berarti akan banyak kebutuhan masyarakat yang bisa diperoleh melalui aplikasi teknologi, maka data yang terkumpul akan semakin besar. Sebagaimana dijelaskan oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Semuel Abrijani Pangerapan. Menurutnya, pada era digital siapapun bisa masuk dan menjadi pengusaha teknologi. Tidak harus mereka yang memiliki modal besar atau jaringan kuat. Hanya saja industri digital di Indonesia masih didominasi oleh pemodal besar. Padahal kesempatan terbuka untuk siapa saja, mengingat data memang terbuka dan bisa dimasuki oleh siapa pun. Data menunjukkan sampai saat ini terdapat sekitar 26 juta pengusaha berbasis digital di Indonesia dan 1.705 start-up.

Dilansir dari halaman sindonews, Samuel menambahkan, “Pertumbuhan ekonomi digital akan membutuhkan dukungan big data. Semakin besar data bisa dikumpulkan, maka ini akan menjadi dukungan yang penting bagi tumbuhnya ekonomi digital.”

Sementara menurut Dekan Fakultas Ilmu Adminsitrasi (FIA) STIAMI, Dr. Bambang Irawan, MM fenomena big data ini telah merontokkan retail-retail besar di hampir semua negara. Demikian juga dalam hal pekerjaan, dimana sekitar 12,5% jenis pekerjaan yang hilang dan digantikan oleh mesin maupun robot.

 

Go-Pay dan Baznas Luncurkan Program Sedekah Nontunai

Program sedekah non-tunai dengan cara potong saldo Go-Pay melalui metode scan QR Code, telah dirilis Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang bekerjasama dengan Go-Jek, dan diresmikan oleh Deputi BAZNAS, Arifin Purwakananta, beserta Managing Director Go-Pay, Budi Gandasoebrata.

Fitur yang digagas dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1439 H ini bertujuan agar memudahkan masyarakat dalam bersedekah maupun berzakat, dengan cara praktis tanpa harus menemui amil perantara, yaitu dengan cara online. Cukup buka aplikasi Go-Jek lalu scan QR code bertanda khusus (sedekah Go-Pay), kemudian masukkan nominal saldo Go-Pay yang akan disedekahkan. Untuk scan QR code sendiri, pihak BAZNAS menjanjikan akan tersedia di banyak tempat, terutama di tempat umum seperti stasiun maupun mall.

Menurut Arifin Purwakananta, metode ini sah dalam menyalurkan sedekah, mengingat teknologi keuangan sudah mendukung dan masyarakat sudah akrab dengan teknologi terkait. Sementara Budi Gandasoebrata menambahkan, untuk mensosialisasikan metode ini pihaknya dan Baznas akan bekerjasama, seperti dengan cara memasang notifikasi di aplikasi atau poster di lokasi tertentu.

Peluang Besar di Bisnis Agro Digital

Managing Partner dan Pendiri East Ventures, Willson Cuaca berpendapat saat ini ada banyak lingkungan usaha yang sedang dijalankan dalam format digital, seperti agrobisnis, pendidikan dan kesehatan yang menurutnya sangat menarik untuk didanai mengingat potensi yang besar, terutama bidang agrobisnis.

Beberapa pemodal memperkirakan, bentuk digital pada bidang agrobisnis akan diminati di Indonesia, karena kebutuhan yang besar dan belum banyak orang yang menjalankannya. Apalagi, agrobisnis merupakan industri yang berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Walaupun dengan resiko yang besar, terutama dalam hal mendidik petani untuk menggunakan platform digital melalui smartphone.

CEO PT Triputra Agro Persada, Arif P. Rachmat sepakat meski peluangnya terbilang besar, tantangan dalam hal ini adalah minimnya keahlian petani menggunakan teknologi. Dilansir dari kadata.com, Arif menambahkan bahwa dibutuhkan banyak orang untuk mendampingi petani, sementara program pendampingan itu sendiri membutuhkan biaya yang besar.

Indonesia Jadi Negara Pertama Bagi Apple Developer Academy di Asia Tenggara

Indonesia menjadi negara terpilih untuk inovasi pertama Apple di Asia Tenggara. Ini ditandai dengan dibukanya akademi yang ditujukan bagi para pengembang aplikasi di Indonesia, Apple Developer Academy, yang berlokasi di Green Office Park, BSD City, Tangerang Selatan.

Di dalam negeri, komunitas pengembang aplikasi berbasis iOS sedang berkembang pesat dengan pertumbuhan lebih dari 50% dalam dua tahun terakhir.

Dalam menghadirkan sekolah bagi developer di Indonesia, Apple berkolaborasi dengan Universitas Binus untuk menjadi penyalur awal talenta-talenta muda yang akan belajar membuat aplikasi di sana, dimana Apple Developer Academy membuka kelas pertama bagi 75 orang khusus untuk mahasiswa-mahasiswi dari Binus.

Selanjutnya, pada Juni mendatang pendaftaran untuk umum akan dibuka dengan kuota mencapai 125 orang, dan pada prosesnya bersama BINUS, akan diselenggarakan kelas harian dipimipin instruktur ahli yang dilatih oleh Apple. Mereka akan memberikan siswa kemampuan dan pengalaman untuk membuat aplikasi dan dipasarkan melalui App Store. Kelas di Apple Developer mencakup Objective-C dan Swift. Swift adalah bahasa pemrograman dari Apple yang diciptakan untuk membuat aplikasi untuk iOS, Apple TV dan Apple Watch.

Wakil Presiden Apple Bidang Lingkungan Hidup, Kebijakan dan Inisiatif Sosial, Lisa Jackson, mengungkapkan pihaknya bertujuan membantu untuk melahirkan pengembang di masa depan dengan kemampuan mengembangkan aplikasi iOS. “Komunitas pengembang kami yang kreatif telah membantu membuat App Store dan ada kesempatan yang tidak terbatas bagi orang dari berbagai usia di Indonesia untuk menciptakan aplikasi baru yang bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia,” ungkap Lisa

Platform Antihoaks Segera Dirilis di Indonesia

Proyek kolaboratif bertajuk Cekfakta.com yang berguna untuk pengecekan fakta, sekaligus sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan informasi yang tepat berdasarkan fakta, akan segera dirilis di Indonesia.

Melalui platform ini diharapkan klarifikasi atas hoaks bisa dilakukan lebih cepat, lalu dapat disebarluas melalui jejaring media yang berkolaborasi dan media sosial.

Kolaborasi ini diprakarsai oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), Internews dan Google News Initiative. Kerjasama ini juga merupakan bentuk sikap terhadap banyaknya informasi hoaks ketika memasuki tahun politik, sekaligus sebagai komitmen bersama untuk menghadirkan informasi yang tepat dan terpercaya kepada masyarakat.

Sebagai wadah untuk jurnalis, AJI berharap inisiatif ini akan lebih mendorong jurnalis dan media untuk terlibat dalam upaya memerangi misinformation, fake news dan semacamnya karena dampaknya sangat besar terhadap kehidupan publik.

Bersama Mafindo ada sekitar 22 media publikasi antara lain Tempo.co, KabarMakassar.com, KabarMedan.com, The Jakarta Post, Kompas.com, Beritasatu.com, Suara.com, Tirto.id, RiauOnline.co.id, Antaranews.com, Republika,co.id, KBR, Dream.co.id, TimesIndonesia.co.id, Katadata, Viva.co.id, dan beritajatim.co.

Dilansir dari halaman kontan.co.id, Pemimpin Redaksi Kontan.co.id Ardian Taufik Gesuri mengungkapkan, “Hoaks itu antijurnalisme yang perlu kita lawan bersama karena pengaruhnya sangat besar di masyarakat. Jangan kita biarkan merajalela. Maka kita bersama harus bersungguh-sungguh memberantasnya sebagaimana perang antara kebenaran melawan kebatilan dan kesesatan.”

Sementara itu, ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut menegaskan, Cekfakta.com adalah sebuah terobosan yang dibutuhkan dalam memfilter hoaks dan informasi yang salah. “Proyek ini merupakan satu-satunya karena untuk pertama kalinya media siber arus utama di Indonesia bersama-sama berkolaborasi, alih-alih bersaing. Kami mengesampingkan persaingan untuk hal yang lebih besar,” ujar Wens menambahkan.

Masih dilansir dari halaman Kontan, Ketua Mafindo, Septiaji Eko Nugroho mengatakan bahwa, “Mafindo mendorong solusi integratif untuk melawan penyebaran hoaks di Indonesia. Selain gerakan edukasi literasi dan silaturahmi antar anak bangsa untuk meredam polarisasi, kami juga berharap upaya gotong-royong melakukan cek fakta antara media siber arus utama, bersama pegiat antihoaks seperti ini bisa menjadi salah satu solusi untuk meredam penyebaran hoaks di Indonesia.”

Dan masih dalam rangka menyikapi maraknya informasi hoaks, beberapa nama dari kolaborasi ini akan menyelenggarakan event ‘Trusted Media Summit 2018’ pada tanggal 5-6 Mei 2018 bertempat di Gran Melia Hotel, Jakarta.

Fitur Terbaru YouTube Kids Perketat Kontrol Terhadap Anak

Mulai sekarang orang tua sudah bisa memfilter video dan channel untuk diakses anak – anak pada situs web berbagi video, YouTube. Ini karena layanan penyimpanan video tersebut telah menyediakan aplikasi yang bisa dikendalikan penuh oleh orang tua yang bernama YouTube Kids.

Google menanamkan serangkaian fitur content control baru dalam update teranyar YouTube Kids yang sebelumnya telah diumumkan YouTube. Aplikasi ini diklaim memberikan kendali bagi orang tua seperti fitur memilih video dan channel, lalu fitur yang bisa menghentikan fungsi pencarian, dan fitur penyajian channel untuk beragam kategori seperti seni, musik atau olahraga yang dianggap layak ditonton anak-anak.

Selain itu, Google juga memberikan fitur signed-in profiles untuk para orang tua agar bisa membuat profil individual bagi masing-masing anak di perangkat yang sama, khusus untuk wilayah Eropa, Timur Tengah dan Asia.

YouTube Kids pertama kali diluncurkan pada 2015, Aplikasi ini terpisah dari YouTube reguler. YouTube Kids dibuat hanya untuk menyajikan konten-konten yang pantas untuk orang di bawah umur.

 

Revolusi Digital Diprediksi Hapus Jutaan Peluang Kerja

Presiden International Social Security Association, Joachim Breuer berpendapat dunia sedang memasuki revolusi digital yang disebut sebagai revolusi industri 4.0*, kondisi dimana hampir semua aktivitas dilakukan secara digital.

Kondisi ini membuat banyak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), karena sejumlah sektor sudah bersiap mengurangi pekerjanya, seperti pengelola toll yang mengurangi pekerja layanan pembayaran toll dengan layanan kartu elektronik, atau seperti sektor perbankan yang mengurangi pegawai karena akan meningkatkan layanan secara online.

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang PS Brodjonegoro, Indonesia akan kehilangan 50 juta peluang kerja akibat penyimpangan (disruptive) ekonomi dari revolusi digital atau revolusi industri keempat (4.0) sehingga semua pihak harus siap menghadapinya termasuk badan pengelola jaminan sosial nasional (republika).

Namun menurut Breuer, walaupun akan banyak terjadi PHK, tetapi di sisi lain akan banyak pula peluangan kerja yang tercipta. “Hanya saja hingga kini kita tidak tahu secara pasti berapa banyak yang kehilangaan pekerjaan dan berapa banyak peluang kerja baru yang tercipta,” ujarnya.

*istilah untuk tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, Internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif.